News

Dekan Fakultas Teknologi dan Ilmu Komputer, Universitas Prima Indonesia (FTIK Unpri), Abdi Dharma, S.Kom., M.Kom. mengatakan, dalam melakukan sesuatu, jangan pernah berpikir terlalu panjang, dan juga jangan berpikir terlalu pendek.

"Makin banyak pemikiran yang dilakukan, makin menghambat proses perjalanan yang akan kita lalui. Jangan galau, jalan terus, karena dengan berjalanlah akan menghasilkan sesuatu", ujar Abdi Dharma pada acara Yudisium FTIK Unpri Angkatan VI, di lantai V Rumah Sakit Royal Prima, Jalan Ayahanda, Medan.

Hadir dalam acara itu, Wakil Dekan FTIK Unpri, Chairul Azhar, S.Si., M.Pd., Ketua Program Studi Teknik Informatika, Hendra Pasaribu, S.Kom., M.Kom., Ketua Program Studi Sistem Informasi, Mardi Turnip, S.Kom., M.Kom., Sekretaris Program Studi Teknik Informatika, Mawaddah Harahap, S.Kom., M.Kom, Sekretaris Program Studi Sistem Informasi, Siti Aisyah, S.Kom., para dosen penguji serta dosen pembimbing FTIK Unpri serta para tamu kehormatan lainnya.

Abdi mengatakan, para alumni yang telah menyelesaikan pendidikan telah mempunyai ilmu yang bisa diamalkan dalam dunia kerja, tetapi diharapkan bukan hanya kemampuan Intelligent Quotient (IQ) yang harus dimiliki, melainkan juga harus didukung oleh kemampuan Emotional Quotient (EQ). Untuk mendukung pengembangan IQ dan EQ maka harus dimiliki 4 sikap, sikap pertama, yaitu "Invest before you receive", bekerjalah terlebih dahulu sebelum kita menerima sesuatu.

Dalam hal ini, kata Abdi, ada usaha, pasti ada hasil, jangan mengharapkan sesuatu yang datang secara tiba – tiba maupun gratis, setiap hal pasti diikuti oleh usaha. "Makin banyak usaha yang kita lakukan, alhasil pasti ada sesuatu yang akan kita terima. Bekerjalah terlebih dahulu sebelum Anda mengharapkan imbalan", katanya.

Selain itu, yang harus dimiliki untuk mendukung IQ dan EQ adalah "First make it run, second make it run faster", melakukan sesuatu pekerjaan itu tidak selamanya bisa sukses 100 persen, terkadang hanya berhasil setengahnya saja, walaupun sebuah pekerjaan hanya berhasil setengahnya saja, tetapi pengalaman yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut sangat berharga, dan dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan berikutnya, sehingga bisa menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.

Kemudian, sikap ketiga adalah, "Find a solution, not another problem", carilah solusi dari sebuah masalah, bukan mencari masalah baru lagi, prinsip ini menekankan kepada kita untuk berusaha mencari solusi atas setiap masalah – masalah yang ada, dan bukannya berusaha mencari kambing hitam ataupun menyalahkan orang lain.

"Human Mission is Learning", mulai dari lahir, sampai tua, sampai meninggal, semua itu adalah proses yang membutuhkan pembelajaran. Bagi seorang manusia, belajar itu tidak akan pernah berakhir", tegasnya.

Sementara itu, ketua panitia yudisium, Wishnu Depha menambahkan, Universitas Prima indonesia adalah universitas yang terbaik di Sumatera Utara, yang banyak menciptakan alumni - alumni yang berhasil di bidangnya masing - masing.

Dikatakan Wishnu, Universitas Prima indonesia banyak memiliki pengajar handal, yang mampu mengajarkan ilmu teknologi yang sangat berkembang pada zaman sekarang. "Kedepannya Universitas Prima Indonesia pasti akan makin maju dan makin jaya dari tahun ke tahun", tandasnya.

Pada kesempatan itu, David Zoas yang memwakili alumni, mengatakan, bahwa yudisium ini bukan hanya sebagai akhir dalam menuntut ilmu di FTIK Unpri, melainkan juga sebagai momentum dan awal dari babak baru untuk menyongsong hari esok yang lebih baik.

"Kami sadar, tanggungjwab yang kami pikul akan semakin besar, pertanggungjawaban kami bukan lagi kepada bapak ibu dosen atau bapak ibu penguji, melainkan kepada masyarakat dimana kami akan mengabdikan ilmu yang kami peroleh", ucap David seraya menyatakan, kami juga menyadari bahwa selama menempuh pendidikan di lembaga ini, terdapat banyak kesalahan yang telah kami lakukan dalam bertindak, berkata dan bersikap. Hal tersebut tidak terlepas dari proses penemuan jati diri yang sedang kami alami.

Karena itu, David mengajak para peserta yudisium untuk menjunjung tinggi almamater dengan mempertanggungjwabkan disiplin ilmu yang ditekuni baik kepada dunia kerja maupun dunia pendidikan.